Lompat ke konten

Menimba Bijak Dari Setapak Mongkrang

    Oleh: Andreas Heri, S.S.

    “Yopalaaa!!!” “Yooos!!!” Yel-yel yang telah lama tak terdengar. Yel-yel ini khas dimiliki oleh ekskul Yopala. Sebuah eskul yang mewadahi minat anak-anak untuk berkegiatan di alam. Pagi ini, Sabtu 24 September 2022, yel-yel ini tiba-tiba memecah keheningan SMA PL Santo Yosef Surakarta. Sudah lebih dari 2 tahun, di SMA Yosef hening tanpa kegiatan sispala. Tetapi tidak di hari ini. Sebanyak 32 anggota Yopala muda, gabungan dari kelas XI dan Fase E akan mengadakan kegiatan pengenalan medan gunung. Mereka dikawal oleh alumni yang tentu telah memiliki pengalaman di bidang pendakian gunung dan jelajah hutan serta dikawal oleh satu guru yang cukup punya jam terbang di bidang petualangan alam liar.

    Setiap Sabtu memang tidak ada kegiatan pembelajaran, dengan sendirinya sekolah menjadi sunyi. Tetapi tidak dengan pagi ini, kesunyian itu pecah bersama suka cita dan kegembiraan anak-anak Yopala. Mereka terlihat penuh semangat. Datang dengan baju kebanggan seolah-olah siap tempur jelajah rimba. Setelah pengecekan barang bawaan beserta perlengkapan pendakian, lalu berdoa, meneriakan yel-yel penyemangat, lalu satu persatu naik bus. Rombongan bergerak meninggalkan halaman sekolah tepat pukul 10.00 menuju base camp (BC) pendakian Bukit Mongkrang, Tawangmangu, Karanganyar.

    Keceriaan masih membahana di tengah perjalanan. Hingga tanpa terasa 2 jam berlalu dalam menyusuri jalan dan sampailah di BC pendakian. Sebuah tanah lapang yang luas dengan latar gagah Gunung Lawu di sebelah utara sedang di sisi selatan gugusan pegunungan Jobolarangan seolah melambai untuk segera disambangi. Tanah lapang dengan rerumputan yang hijau berudara sejuk karena berada di atas ketinggian 1.800 mdpl telah meneguhkan dan mematrikan semangat anak-anak untuk segera nanjak.

    Tetapi dalam dunia pendakian, semangat saja tidak lah cukup. Ada banyak hal yang harus dipersiapakan dan dibawa. Langkah pertama adalah membiarkan tubuh beradaptasi dengan udara sejuk pegunungan. Sembari tubuh menyesuaikan diri, maka kami pun makan bersama sembari mengurai ragu dan mengikat persahabatan. Gelak tawa tercerai dengan leluasa. Canda yang akrab khas anak remaja menjadi warna dalam pendakian kali ini. 1 jam usai makan siang,  kami pun bersiap. Kembali kami cek masing-masing perbekalan dan sekaligus untuk packing ulang agar perlengkapan dapat nyaman dalam gendongan. Karena peserta terlalu banyak, supaya menjadi lebih efektif dan mudah dipantau, maka rombongan terpaksa dipecah dan dibagi menjadi 3 kelompok.

    Tepat pukul 14.00 kelompok pertamapun mulai merangkak-nanjak. Tetap penuh tawa kendati terik matahari memancar ganas. Di awali dengan medan datar sehingga nafas tetap aman. Kemudian medan mulai menanjak dan memaksa nafas tersengal. Satu persatu anak-anak pun sambat memohon untuk sejenak beristirahat. Tanjakan kian ganas dan diperparah dengan setapak yang berdebu. Maka dengan sendirinya nafas makin berjuang untuk memenuhi oksigen dalam darah. Lelah dan haus mulai mengekang raga. Kendati begitu semangat untuk menyelesaikan pendakian tetap membara.

    Di ujung bukit itu perjalanan akan selesai. Namun saat ujung bukit yang satu selesai ternyata muncul ujung bukit berikutnya. Tidak boleh menyerah. Langit biru yang cerah sesekali diselimuti awan tipis seolah menetralkan raga yang koyak. Sepoi desiran angin yang sejuk seolah menormalkan peluh yang bercucur. Selangkah demi selangkah terus melangkah hingga akhirnya bukit terakhir telah tercapai. Tonggak besi berujung sang saka merah putih yang berkibar disusul dengan kibaran bendera YOPALA seolah merentang menyambut kedatangan. Di bawah dua bendera yang berkibar terdapat plakat bertuliskan puncak Mongkrang dengan ketinggian 2.194 mdpl. Lega hati, lega raga, lega pundak dan nyamanlah kaki.

    Suka cita itu makin sempurna mana kala di langit sisi barat terlihat temaram senja berpadu mesra dengan biru langit yang sesekali disembunyikan oleh tarian awan tipis. Sedangkan angin masih bertiup manja menggelombangkan padang ilalang sehingga terlihat seperti lautan hijau. Namun, keindahan ini tidak bertahan lama, mendadak kekuatan angin bertambah sehingga tak lagi nyaman dinikmati tetapi berubah mengkhawatirkan. Badai gunung menyerang. Beberapa tenda yang telah berdiri terpaksa porak-poranda diterjang ganasnya angin.

    Udara yang awalnya nyaman untuk dinikmati berubah menjadi hal yang menakutkan. Udara berubah menjadi dingin menusuk tulang. Sehingga 2 kelompok yang telah tiba pun asik berlindung dalam dekapan tenda. Waktu telah menunjuk angka 17.45, seharusnya 3 kelompok semuanya sudah sampai. Tetapi ternyata masih ada 1 kelompok yang belum tiba. Di puncak Mongkrang sinyal HP memang masih ada tetapi tidak setabil. Sambil menunggu tiba-tiba ada notif bahwa Bruder Kepala Sekolah serta satu waka-nya akan mengunjungi anak-anak. Padahal mereka belum tahu medannya.

    Maka aku putuskan turun kebawah untuk menjemput rombongan Bruder Stefanus dan Pak Tri sekaligus melacak keberadaan 1 kelompok yang berlum tiba. Tidak sampai 50 meter aku menuruni Bukit Mongkrang, suara rombongan ketiga sudah terdengar. Artinya mereka hampir tiba. Badai masih menunjukkan kekuatannya, aku terus menyusuri setapak hutan di tengah kegelapan malam. 30 menit meninggalkan puncak Mongkrang, aku pun tiba di puncak Candi sebagai titik temu. 20 menit aku menunggu tetapi tak ada tanda Bruder dan Pak Tri. Padahal area itu banyak sekali tenda. Jelas melacak secara manual akan kesulitan. Sinyal yang datang dan pergi, tiba-tiba membawa kabar bahwa Bruder dan Pak Tri sudah tiba. Lalu kami pun saling mencari dan ketemulah.

    Sayang, Bruder dan Pak Tri mengatakan cukup sampai di Puncak Candi. Malam telah larut, maka mereka memutuskan untuk tidak lanjut ke Puncak Mongkrang. Mereka menitipkan oleh-oleh pisang molen untuk diberikan ke anak-anak. Sungguh perhatian yang luar biasa. Aku pun bergegas menuju ke tempat camp anak-anak berkumpul. Malam kian senyap, udara kian dingin dan angin tak juga mau mereda. Sendirian aku menyusuri setapak hutan tanpa ketemu pendaki lain. Hingga aku tiba di Puncak Mongkrang. Anak-anak semuanya telah nyaman dalam tenda. Terlihat beberapa alumni yang masih berjaga. Lalu aku pun bergabung dengan mereka, menikmati malam dengan deru angin yang membekukan udara. Api unggun siap menemani menghabiskan malam sambil berkisah tentang kehidupan.

    Pagi merangkak tenang. Kendati deru angin gunung tak juga menyurut, namun kilau emas semburat merah di ufuk timur mampu membangkitkan semangat untuk segera keluar dari tenda. Teriakan Sunrise mampu membuyarkan raga yang nyaman dalam dekapan sleeping bag.

    Euphoria pesona matahari terbit telah usai. Saatnya membuat sarapan serta menikmatinya, bongkar tenda, packing dan melanjutkan perjalanan turun. Tepat pukul 12.00 semua peserta telah tiba di BC. Sambil istirahat, semuanya makan siang dan tepat pukul 14.00 kembali meluncur menuju Solo. Di rumah semua menanti cerita dengan sejuta maknanya.

    Sumber: https://www.smaplstyosefsolo.sch.id/berita/detail/125419/yopala-menimba-bijak-dari-setapak-mongkrang

    Beranda
    WA Yopala
    WA Pembina
    WA WAPA